Senin, 17 Mei 2010

Kuratorial Eros Thanathos (Oleh: Riezky Putra)




“Passion, it lies in all of us, sleeping... waiting... and though unwanted... unbidden... it will stir... open its jaws and howl.”
--Joss Wheedon


has·rat n keinginan (harapan) yg kuat: -- nya hendak menemui ibunya tiada tertahan lagi;
-- budaya dorongan dl bentuk baru berkat pengaruh kebudayaan; -- budaya pemilikan kecenderungan manusia mencari, memperoleh, menggunakan, dan menyimpan barang; -- budaya wilayah kecenderungan manusia mendapat ruang hidup yg sepadan, baik yg berbentuk fisik, psikologis, maupun keorganisasian;
ber·has·rat v ingin (akan); berharap (akan): ia ~ bertemu dng ayah kandungnya;
meng·has·rat·kan v menginginkan; menghendaki: kita semua ~ kemakmuran dan keadilan;
ter·has·rat v diinginkan; dikehendaki;
ke·has·rat·an n keinginan; harapan yg kuat
(Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Itulah definisi tertulis dari suatu hal abstrak bernama hasrat.

Dalam berbagai agama besar, hasrat diidentikkan dengan jalan menuju kemudaratan, terutama bila dikaitkan dengan nafsu. Dalam filosofi pun hasrat bisa menciptakan suatu kesakitan sosial. Marx mengarahkan kita bahwa kebutuhan dan hasrat adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, sedangkan menurut Hegel, hasrat dalam sebuah produktifitas adalah termasuk sebuah kepasifan.

Hasrat hanyalah salah satu hal di dunia yang memiliki dualitas. Hasrat juga mendorong manusia menciptakan kemajuan dan keajaiban yang dapat memudahkan kehidupan. Bayangkan jika, katakanlah seniman Claude Monet menahan hasratnya untuk memperhatikan keajaiban warna dan cahaya, mungkin gerakan Impressionisme tidak akan pernah lahir.

Pendukung utama dari hasrat adalah filosofi Hedonisme. Didirikan oleh Aristippus dari Cyrene, Hedonisme mengajarkan manusia untuk selalu memenuhi hasrat mereka agar kelak mereka tidak menyesal. Sebaliknya filsuf Epicurus menentang pendapat tersebut dan mengajarkan bahwa penyangkalan diri adalah sesuatu yang lebih baik.

Pada akhir abad ke-19, persoalan hasrat mulai masuk dalam bidang parapsikologi. Freud dalam salah satu risalahnya menyatakan bahwa manusia pada dasarnya hidup demi pemenuhan 2 hasrat utama, yaitu Eros dan Thanatos. Eros yang memiliki arti cinta dalam bahasa Yunani, mewakili segala sesuatu yang mengandung arti kehidupan, termasuk didalamnya mencakup seks. Thanatos sendiri mengacu pada kematian atau lenyapnya jiwa.

Uraian Freud tentang banyak masalah kejiwaan menjadi favorit para seniman seperti Dali sehingga tidaklah aneh bila hasrat menjadi gejala dan tema yang besar di dunia seni pada paruh awal abad ke-20. Dalam buku karya Eleanor Heartley, sang pengarang menyatakan bahwa unsur hasrat mengandung peran penting dalam perkembangan mazhab ekspresionisme dan Surealisme di dunia seni modern. Ekspresionisme dan Surealisme telah mendorong hasrat (baik yang bersifat eksplisit atau implisit) menjadi sedemikian penting, sehingga setiap seniman jenius butuh hasrat atau kegilaan dalam karyanya.

Bagaimana dengan seni Post-Modernisme? Masih dalam buku yang sama, Heartley menerangkan bahwa nilai hasrat telah dibawa lebih jauh dibandingkan pada masa modernisme. Hal itu mungkin disebabkan dari kelenturan hasrat. Menurut dua filsuf Perancis, Deleuze dan Guattari. hasrat bisa mengambil bentuk yang tak terbatas karena dia adalah aliran yang tidak bisa dikodekan. Definisi akademis tentang hasrat tersebut tampaknya diterapkan dalam karya-karya yang diajukan oleh enam orang seniman ini. Nilai Pi (kekekalan) antara hasrat dan kreatifitas bersatu menjadi sebuah kelahiran baru: karya.


Latar Belakang

Menurut Karel van Mander, seorang kritikus seni Belanda abad ke-15, drawing (atau kurang lebih dapat diterjemahkan sebagai menggambar) adalah bapak dari semua seni.  Pernyataannya tampaknya masih koheren dengan keadaan saat ini dimana semua cabang dari seni rupa bahkan desain awalnya terlebih dahulu dimulai dengan menggambar.

Bila sebuah drawing ditujukan untuk membuat karya lain seperti patung atau lukisan maka gambar tersebut dapat disebut sebagai sebuah sketsa. Kebalikannya, drawing yang baik bisa juga menjadi sebuah karya seni tersendiri. Contoh drawing seperti itu bisa dilihat dalam drawing karya Escher atau Leonardo.

Di Indonesia sendiri, drawing adalah esensi penting dari perkembangan seni modern. Para guru seni masa itu yang mendapat Middlebare akte (Surat untuk mengejar kesenian) kerap dipanggil sebagai Juru Gambar. Gambar lebih dipahami masyarakat Indonesia dibandingkan media seni lainnya. Jenis-jenis gambar bisa ditemui dalam berbagai macam bentuknya dari ilustrasi di majalah hingga karikatur di koran.

Terlepas dari pandangan seni modern tentang pembagian antara kitsch dan high art dan apakah  drawing bisa dibagi ke dalam kedua kategori tersebut, drawing tampaknya dipilih sebagai medium yang tepat bagi enam orang seniman ini.


Hasrat dan MYOPIA

MYOPIA adalah sebuah grup seni yang didirikan pada Januari 2010. Beranggotakan enam orang, Pameran ini mengawali kegiatan mereka berpameran secara berkelompok. Dengan hasrat sebagai tema mereka kali ini, para peserta menawarkan interpretasi yang berbeda-beda terhadap dunia “Eros dan Thanatos” tersebut.
Menurut filsafat Stoik, Hasrat memiliki empat buah bagian yaitu Distress (tekanan), Lust (nafsu), Fear (ketakutan), dan Delight (perasaan seperti di awang-awang). Baik secara langsung maupun tidak langsung, keempat hal tersebut muncul pada karya-karya enam seniman ini.

Dalam karya Anita Yustisia misalnya, hasrat disimbolkan dalam sebuah narasi yang didongengkan melalui media drawing pen. Pada karya tersebut, seekor burung garuda bertatapan dengan bentuk anomorfis seorang wanita. Fitur wanita tersebut tampak normal, kecuali image rambutnya yang berubah menjadi gulungan tentakel gurita. Bibir sang wanita tampak setengah terbuka, matanya setengah memejam. Apresiator yang jeli mungkin akan teringkat ukiyoe porno terkenal karya Hokusai. Aura yang dirasakan adalah erotik tapi sekaligus penuh elemen cinta platonis. Dalam bahasa Yunani, cinta dibagi menjadi beberapa macam, yang paling kontras adalah antara Eros (Cinta nafsu) dan Agape (Cinta Murni). Keduanya sering dikategorikan termasuk dalam salah satu turunan hasrat menurut para filsuf Stoik. Karya Anita bisa kita terjemahkan sebagai pengungkapan halus antara cinta dan nafsu.

Berbeda dengan karya Banon Gilang. Bagi mereka yang mengenalnya, dua karya ini bisa menjadi self portrait atau mungkin juga parodi. Meski samar, apresiator masih bisa teringat dengan tubuh yang dipinjam oleh sosok Banon. Satu adalah Che Guevara dan satu lagi adalah Adolf Hitler. Dua tokoh dengan ideologi berbeda tersebut memiliki satu kesamaan, keduanya merupakan tokoh terkenal. Dalam psikologi, manusia layaknya hewan seperti bebek atau angsa memiliki naliri imprinted. Mereka mengenali suatu objek dan seringkali menjadikannya panutan, mengasosiasikan objek tersebut dengan dirinya sendiri. Menurut Lacan (1901-1981), pada awalnya seorang individu menjadikan tokoh idealnya berasal dari lingkungan terdekat, seperti keluarga. Lambat laun kecendrungan itu berubah ketika sang individu bertambah dewasa dan memiliki lingkup pergaulan yang luas. Dengan menjadikan dirinya sebagai Hitler atau Che, Banon sesungguhnya telah menghilangkan jejak identitasnya karena tidak ada Hitler dengan wajah seperti Banon atau Banon yang menjalani hidup persis sama dengan Che. Banon sesungguhnya telah membentuk suatu identitas baru, sebuah simulakra, tiruan dari tiruan, setidaknya dalam karyanya.

Dalam karya Rivai, hasrat dilambangkan dalam bentuk ganjil ikan laut dalam, tempat sinar matahari tidak bisa masuk sehingga kebanyakan biota disana menjadi buta. Ikan dalam karyanya tersebut tersebut tampak menonjol dengan latar berupa barisan tulisan. Tulisan Freud menerangkan tentang tiga tingkat kesadaran manusia, dimana hasrat atau id merupakan bagian terdalam dan ‘gelap’. Ikan yang melambangkan hasrat tersebut kini melayang dalam stream of conciouness yang diwakilkan dalam bentuk huruf dan tulisan. Memasukkan tulisan dalam sebuah karya visual bukanlah hal yang aneh di dunia seni, seniman seperti Soedjojono dan Agus Suwage melakukannya. Dalam karya Rivai, unsur tulisan dibuat menjelma menjadi sebuah bentuk visual, bukan sesuatu yang harus dibaca melainkan diapresiasi. Tentu saja tulisan tersebut memiliki makna simbolis, dibuat antara sadar dan tidak sadar.

Hasrat dalam bentuk ketakutan divisualisasikan oleh seniman Achmad Munir. Bentuk anamorfis wajah dan tangan yang digabungkan meninggalkan kesan mempesona sekaligus menakutkan bagi apresiator. Tentu saja wajah dan tangan adalah sesuatu yang wajar dilihat oleh manusia sehari-hari, tetapi ketika disimpan dalam susunan yang berbeda, berubah menjadi ‘monster’. Karya Munir ini mengingatkan pada Iluminasi Eropa abad pertengahan yang menggambarkan monster di negeri jauh, yang bertubuh seperti manusia tapi memiliki peletakan anggota tubuh yang tidak wajar. Keduanya menggambarkan sesuatu yang eksotis, yang menakutkan, tetapi juga akrab dengan kita. Ketakutan mungkin adalah salah satu hasrat paling berguna bagi kita, karena secara refleks, hal tersebut merupakan stimuli bagi kita untuk menghindari bahaya.

Dalam Untitled Fixation karya Amira, hasrat diwujudkan dalam bentuk visual seorang wanita yang sedang membasuh wajahnya. Percikan-percikan air tersebut menjelma menjadi berbagai warna psychedelic. Aura yang terpancarkan adalah kesegaran. Tetapi apakah kesegaran itu? Mungkin kita dapat mendeskripsikannya tapi tidak akan pernah menemukan kata yang benar-benar tepat. Wittgenstein (1889-1951) menyatakan bahwa suatu kegembiraan bisa diekspresikan oleh tawa atau sekedar dirasakan dalam hati. Perasaan tersebut benar-benar nyata tapi tidak dapat dikuantifikasi atau dilokalisasi. Begitu pula hasrat yang ditunjukkan oleh Amira. Suatu keadaan subconscious yang secara sadar dapat dirasakan oleh indera-indera kita.

Buddha menyatakan bahwa jalan untuk terlepas dari penderitaan dunia adalah menghilangkan hasrat. Hal tersebut yang terpancar dalam Plain karya Paramitha Citta. Sebah potongan kertas yang dibagi menjadi tiga, ditengahnya tampak terlihat sebuah self-portrait semi realis dari tinta Cina. Self portrait tersebut tampak meleleh dan seakan-akan melebur bersama kekosongan di sekitarnya. Self Portrait adalah salah satu genre yang terus dibuat seniman hingga saat ini dan seringkali menyatakan sebuah ego atau hasrat narsistik. Tetapi tidak tampak satu pun hal tersebut dalam selfpotrait Citta ini. Tampaknya ini adalah sebuah usaha untuk mengendalikan atau bahkan mengosongkan hasrat dalam sebuah karya selfportrait.

0 komentar:

  © Blogger templates Brooklyn by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP